31 Des 2011


Mixed doubles specialist Lilyana tops popularity poll


Picture: LiIyana Natsir


MIXED doubles specialist Lilyana Natsir came out tops in the women’s category of a 24-hour online fan poll carried out by the Badminton World Federation (BWF) recently.
Asked what he thought about it during the Super Series Masters Finals, her partner Tantowi Ahmad was quick to quip: “It is because of her beautiful face.”
The fair-skinned Lilyana blushed but said: “I was quite surprised with the outcome of the fan poll.
“It was an honour to find out that I have a big following. I think the big support is because of my good results in the mixed doubles.
“I did well with my former partner Nova Widianto and I have also produced good results with my new partner Ahmad for over a year now.”
The 26-year-old Lilyana, who won two world titles with Nova, teamed up with Ahmad in 2010 and they are already the world No. 4 and have six Open titles.
Lilyana said the mixed doubles field has become very competitive – especially with the sudden rise of Jaochim Fisher Nielsen-Christinna Pedersen of Denmark this year.
“There was a time when we were at the top but now the Danish pair are riding high.
“What really matters is for us to peak at the right time, during the Olympic Games in London,” said Lilyana.
Ahmad-Lilyana went down fighting 21-17, 7-21, 20-22 to China’s Xu Chen-Ma Jin in a Group A match yesterday but they can still make it to the semi-finals if they beat China’s Zhang Nan-Zhao Yunlei today.
source : The Star Online

Info Badminton (Maaf baru Posting *ketinggalan berita*)

Read More

21 Des 2011

Holaaa.. apa kabar semuanya? semoga hari ini baik-baik semuanya ya ;)
Oya, Selamat hari Ibu untuk semua Ibu di Indonesia khususnya untuk mama saya.
I Love You Mom

Yep! hari ini pertama kalinya gw share video amatiran yang gw buat beberapa hari yang lalu, hehehe. Gw bikin video ini dengan software Corel video Studio Pro X4 dan downloadnya itu supeeerrr lama banget. Nunggu nya sampe gw makan-tidur-mandi waktunya cukup kali tuh.. whahaha :D
Nah, setelah proses download software ini selesai dan langsung gw install. Pas pertama kali nyoba agak bingung juga gimana cara pakenya. Untungnya gw inget, dulu gw pernah pake aplikasi ini untuk bikin video iseng-isengan juga cuman udah lupa video yang dulu itu gw simpen dimana. Dan, setelah ke-sotoyan gw muncul gw coba-coba aja semua fitur yang ada di aplikasi ini. Gw sempet bingung mau bikin video tentang apa, gw ubek-ubek file gw di komputer dan akhirnya gw dapet ide untuk bikin video tentang Lilyana Natsir. Memang akhir-akhir ini kecintaan gw sama badminton ini muncul lagi setelah bertahun-tahun hehe. Finally, jadi juga video pertama gw ini dan hasilnya menurut gw gak jelek-jelek banget kok, whehe ;p

Selamat menonton yaa!!


My first time video - All about Lilyana Natsir

Read More

15 Des 2011

Pasangan Ganda Campuran INA (Tontowi/Lilyana) kalah!!

Read More

13 Des 2011

Review film

The City Of Ember merupakan film fiksi ilmiah, pertama kali saya nonton film ini seru banget. Ceritanya emang menegangan tapi kita di ajak buat berfikir dalam film ini. Waktu itu, awalnya saya menghabiskan liburan di rumah saudara di Manggarai, Jaksel. Untuk mengisi liburan sekolah, saudara sepupu saya ngajak pergi ke PIM. Saat tiba di PIM, saya dan saudara yang seumuran lainnya langsung melesat ke Gedung Bioskop Blitz Megaplex. Ada beberapa film keluarga trus kakak sepupu saya, Nadia memilih film The City Of Ember. Awalnya saya tidak tau film ini berceritakan apa. Tapi, karena diajak kakak sendiri ya ikutan aja. Apalagi, adik sepupu saya lebih memilih film anak-anak. Setelah film di mulai, saya duduk dengan kakak sepupu saya di seat paling belakang.  Film ini ternyata diangkat dari Novel dengan judul yang sama. Berikut saya kasih Synopsis film The City Of Ember.


Sinopsis

Berawal dengan berkumpulnya para ilmuwan guna menyelamatkan kehidupan manusia, dimana permukaan bumi dipenuhi dengan racun. Dari sinilah kehidupan mulai pindah ke bawah tanah dan membentuk sebuah kota bernama Ember.

Kehidupan tentang Ember disimpan dalam sebuah kotak yang akan terbuka setelah 200 tahun kemudian, dan dipegang oleh walikota-walikota berikutnya. Namun estafet tersebut tak berjalan semestinya, hingga akhirnya rantai tersebut terputus.

Kemudian sampailah pada angka 200 tahun, dimana kotak tersebut terbuka. Namun, kehidupan kota Ember mulai menemui kehancuran, generator sebagai sumber tenaga mulai mengalami kehancuran. Hingga dua orang remaja muncul untuk mencari jalan keluar.

Kemudian, mereka melakukan penyelidikan untuk dapat keluar dari kota Ember tersebut. Aksi-aksi penyesurun pun dimulai, hingga akhirya mereka mendapatkan jalan keluar menuju permukaan bumi.

Review
Film ini menceritakan dimana kehidupan di permukaan bumi sudah tak layak untuk ditinggali manusia. Hingga para ilmuwan membuat kota di bawah tanah untuk menyelamatkan manusia.Film ini mempunyai kekuatan cerita yang menarik. Penuh dengan daya hayal dan imajinasi yang tinggi. Selain itu, film ini juga memberikan peringatan kepada manusia untuk tetap menjaga bumi ini dari kehancuran yang besar.Dalam film ini juga memberikan pesan yang menarik. Dimana sang sutradara memberikan benang merah yang menyatakan, kalau tetap berusaha pasti akan menemukan jalan keluar.Tak hanya itu, film ini pun dapat ditonton untuk anak-anak dan keluarga. Pasalnya, pada dasarnya film ini bergenre drama, yang dibalut dengan unsur fantasi yang tinggi.
City Of Ember Trailer




THE CITY OF EMBER
Jenis Film
Adventure/Fantasy - Remaja (Teenage)
Pemain
Bill Murray, Saoirse Ronan, Harry Treadaway, Mackenzie Crook
Sutradara
Gil Kenan
Penulis
Caroline Thompson, Jeanne Duprau (Novel)
Produser
Tom Hanks, Gary Goetzman
Produksi
Walden Media
Homepage
http://www.cityofember.com/
Durasi
95 Min




Film: The City Of Ember

Read More

Walaupun pertandingan Macau Open 2011 udah berakhir tapi gak ada salahnya kalu saya mau kasih info tentang hasil pertandinganya. Mungkin kalian belum ada yang tau siapa wakil Indonesia satu-satunya yang menjuarai Macau Open 2011 awal desember kemarin.

Yap.. Pasangan Ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir adalah satu-satunya wakil dari Indonesia yang membawa medali Emas pada pertandingan Macau Open 2011. Pada babak Final Mixed Double, pasangan dari Indonesia Tontowi/Lilyana menghadapi pasangan dari Taipei, Chen Hung Ling/Chen Wen Hsing. Namun, karena pertandingan sebelumnya di babak Semi Final pasangan ganda campuran dari Taipei bermain sangat sengit saat melawan pasangan ganda campuran dari Indonesia Rijal/Debby. Akhirnya, salah satu pemain ganda campuran dari Taipei, Chen Hung Ling mengundurkan diri karena mengalami cidera dalam rubber set saat melawan pasangan dari Indonesia (Rijal/Debby). Sehingga, pertandingan pada babak Final dimenangkan oleh pasangan Ganda Campuran Indonesia Tontowi/Lilyana dengan Wolk Over (WO) tanpa harus susah payah mengeluarkan tenaga.

Kalau saya review lagi, pasangan Ganda Campuran INA Tontowi/Lilyana mendapatkan medali emas dalam perhelatan Olah Raga Terbesar Asia Tenggara SEA Games ke- 26 di Istora Senayan. Pasangan INA ini berhasil menundukkan pasangan dari THA, Sudket/Saralee.

Memang pasangan Tontowi/Lilyana ini baru dipasangkan. Sebelumnya Lilyana pernah berpasangan dengan Nova Wdianto dan berhasil merebut gelar juara dunia. Semoga saja setelah Lilyana mendapat pasangan baru bersama Tontowi prestasi Bulu Tangkis Indonesia tidak menurun.  

Nova Widianto/Lilyana Natsir 

 Tontowi/Lilyana (SEA Games ke- 26 di Istora Senayan)

 Tontowi/Lilyana (SEA Games ke- 26 di Istora Senayan)

 Lilyana Natsir

Greysia Polii (kiri) dan Tontowi Ahmad (kanan)

Info Badminton! (Macau Open Grand Prix 2011)

Read More

Barusan saya dapet Broadcast dari kakak sepupu via BBM, isinya ada link facebook gitu. Lalu, saya buka link-nya ternyata ada sebuah note Facebook yang isinya kisah seorang bapak tua penjual amplop di Masjid sekitar ITB Bandung. Kisahnya sangat mengharukan. Saya share cerita bapak tua itu disini semoga pembaca bisa melihatnya :)


Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.
Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.
Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.



Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.




Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.


Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.
Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.




Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.


Sumber: http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/11/19/bapak-tua-penjual-amplop-itu/

Bapak Tua Penjual Amplop

Read More

Copyright © 2014 My Visual Journey | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top